main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
main Slider
UPDATES///
main Slider

NGK Busi Indonesia Tuai Penjualan Positif di Tahun 2018

GridOto.com  - Jelang tutup tahun 2018,  PT NGK Busi Indonesia mengklaim alami penjualan yang positif. Dipercaya sebagai pemasok busi resmi berbagai model kendaraan, permintaan  busi NGK  di pasar otomotif Indonesia diklaim tinggi. “Permintaan di pasar tetap tinggi, termasuk aftermarket,” buka Ardhieta Wahyu Wicaksana, Asisten Manager Marketing Brand Managaer PT NGK di sela-sela coaching clinic jurnalis di bilangan Jakarta Timur (24/11/2018). “Angka pastinya tidak tahu, baru ada akhir tahun nanti. Namun berdasarkan informasi dari tim analisis, permintaan tetap tinggi untuk hampir semua tipe busi,” lanjut dia. Penjualan yang baik tersebut, kata Wicak, ditopang program-program NGK sepanjang tahun 2018, salah satunya dengan mendekati komunitas. “Salah satu pilar (program) kami adalah komunitas. Mereka punya mobil-mobil yang unik. Kami hadir di berbagai acara komunitas untuk memberikan informasi mengenai busi kepada mereka,” ujar Wicak. "Seperti saat berkunjung ke acara komunitas di Medan dan Surabaya, kami bawa busi-busi yang aneh (untuk berbagi informasi dengan komunitas). Untuk tahun depan, Wicak mengaku masih menggodok program-program baru bersama pihaknya. “Namun, program seputar komunitas, media dan exhibition akan tetap ada,” kata dia. Hingga kini, NGK telah memiliki 27 distributor dan bekerja sama dengan 10 agen pemegang merek (APM). NGK juga telah dipercaya menjadi pemasok utama busi resmi dari beragam model kendaraan baru, baik motor maupun mobil. Beberapa di antaranya seperti Honda New CBR250RR, Suzuki GSXR 150, Yamaha New R15, Daihatsu Sigra, Honda Brio, BR-V, HRV, Mobilio, dan Suzuki New Ertiga.   Sumber :  https://www.gridoto.com/read/221256393/ngk-busi-indonesia-tuai-penjualan-positif-di-tahun-2018#!%2F

main Slider

NGK Bekali Komunitas Jurnalis Ilmu Busi

Jakarta:  Menekuni dunia otomotif dan tiap hari berkutat dengan industri otomotif hingga ke bengkel-bengkel, bukan berarti membuat jurnalis otomotif serba tahu tentang semua komponen otomotif. Mengingat perkembangan zaman serta teknologi komponen juga semkain tinggi.   Salah satunya adalah teknologi pemantik api di ruang bakar mesin atau yang biasa dikenal busi. Banyak masalah yang terjadi karena orang cenderung menganggap bahwa pemantik api di ruang bakar ini hanya berfungsi untuk menghidupkan mesin. Padahal selama mesin bekerja, maka pemantik api ini juga terus bekerja.   "Ditambah lagi beberapa teman juag sering melakukan obrolan tersendiri soal teknis busi di ruang bakar, perannya hingga bagaimana soal perawatannya. Hal inilah yang mendorong kami melakukan edukasi khusus ke teman-teman jurnalis. Agar tentunya menjadi sesuatu yang dipahami sebelum memberikan bahan tulisan yang bermanfaat bagi pembacanya," jelas Assistant Manager Marketing Brand Management, PT NGK Busi Indonesia, Ardhieta Wahyu Wicaksana, di Ciracas hari ini, Sabtu (24/11/2018).  Ada dua tema besar yang dibahas yaitu soal total jarak tempuh atau pemakaian untuk busi. Kemudian yang kedua adalah soal masalah yang terjadi jika busi dibiarkan dalam waktu lama tak diganti. Hal ini pun diungkapkan secara rinci oleh Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Octoviano.   "Pemahaman mendalam tentang komponen yang satu ini wajib diketahui para pewarta otomotif," ungkap Diko. "Mengingat ini adalah salah satu komponen yang cukup cepat usia pakainya atau istilahnya komponen fast moving. Kalau tidak paham, bisa-bisa salah menginformasikan dan akhirnya terjadi pemahaman yang salah dan dianggap benar secara umum."   "Saya rasa masalah ini memang menjadi hal yang cuukup banyak ditanyakan teman-teman jurnalis. Mengingat memang tidak banyak yang mengungkapkan hal tersebut secara gamblang. Sehingga banyak yang salah kaprah memperlakukan komponen ini. Padahal efeknya juga bisa berentetan ke komponen pengapian lainnya."   Secara singkat, Diko menjelaskan bahwa usia penggunakan busi itu tergantung dari jenis businya. Tapi Ia mencontohkan untuk busi bermaterial nikel, maka durabilitasnya sebatas 6.000 km untuk busi motor dan 20.000 km untuk mobil. Sementara efek yang akan terjadi ketika busi dibiarkan tak diganti, maka performa mesin akan menurun. Pembahasan lebih jauh tentang itu, akan kami bahas secara terpisah. Sumber :  https://www.medcom.id/otomotif/motor/GNl2AQyk-ngk-bekali-komunitas-jurnalis-ilmu-busi

main Slider

Antisipasi Mogok di Musim Hujan

Saat hujan atau banjir datang komponen  motor pada sistem kelistrikan dan pengapian harus mendapat perhatian ekstra. Musim hujan tiba, hampir tidak ada hari tanpa hujan. Bagi pengendara motor musim hujan memang jadi waktu yang merepotkan. Persiapan yang dilakukan harus lebih komplet. Misalnya saja menyiapkan jas hujan. Maklum saja kadang turunnya hujan tak bisa diprediksi. Hujan juga membuat jalan-jalan sering kerendam air alias banjir, ini juga jadi hal yang merepotkan. Rute atau jalan terdekat yang biasa dilalui tergenang air hujan. Dalam kondisi tertentu tak ada pilihan lain selain menerjang genangan air tersebut. Akibatnya bisa ditebak, sepeda motor yang dikendarai pun mogok. Sepertinya sudah jadi pemandangan umum jika hujan deras datang banyak motor di jalan yang harus berhenti karena mogok. Nah, sebenarnya hal apa saja yang menyebabkan motor mogok saat hujan atau banjir dan bagaimana mengantisipasinya. Kepala Mekanik Ahass Putra Merdeka Cibubur, Anvany Irawan mengatakan motor mogok saat banjir itu tergantung tipenya. Motor matik dan bebek memiliki posisi busi dan knalpot yang lebih rendah, sehingga rawan kemasukan air saat banjir. Berbeda dengan motor sport posisi busi dan knalpot lebih tinggi. Menurut Anvary, ada dua hal penting yang harus diperhatikan saat hujan dan motor terpaksa menerjang banjir yang tinggi. Pertama air jangan sampai melebihi busi, kedua air jangan melebihi knalpot. Jika terpaksa harus melewati banjir yang tingginya di atas knalpot, lanjut dia, usahakan gas jangan sampai tertutup. Ini dilakukan  agar air tidak masuk knalpot. Lalu bagaimana jika motor akhirnya mogok, apa yang harus dilakukan ? Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Oktaviano, mengatakan motor mogok saat banjir atau hujan umumnya terjadi karena ada gangguan  busi, sehingga proses pengapian tidak berjalan sempurna dan mesin pun mati. Biasanya itu terjadi karena busi kerendam air,” kata Diko. Jika sudah demikian busi harus segera dilepas dan dikeringkan, lalu dipasang kembali. Pada dasarnya bentuk fisik mampu melindungi komponen yang ada di dalam kendaraan dari gangguan seperti hujan. “Selama tidak ada yang bocor pada sistem pengapian atau kelistrikan sebenarnya motor aman”,ujarnya kepada Sindo Weekly.  Lain lagi ceritanya jika air sudah masuk ke ruang bakar, maka busi mutlak harus diganti, sebab busi sudah pasti berkarat.  Kendaraan mogok sebenarnya tidak hanya terjadi saat musim hujan saja. Proses pengapian yang tidak sempurna akibat busi jarang diganti bisa mengakibatkan mesin mati mendadak. Itu sebabnya Diko menyarankan agar pengguna kendaraan lebih peduli terhadap kondisi busi. Jangan sampai busi yang harganya tidak seberapa malah membuat kerusakan fatal pada kendaraan yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang lebih besar lagi. Ada beberapa resiko yang dihadapi saat busi yang sudah waktunya diganti tapi masih terus digunakan.  Reskiko tersebut mulai dari  e ngine idle  tidak stabil, akselarasi menurun ,  mesin sulit  hidup saat  start engine  hingga  boros bahan bakar. “Akibat busi yang tidak diganti secara berkala bisa membuat mesin mati mendadak di tengah jalan. Ini jelas sangat membahayakan pengguna kendaran,” ujar Diko Oktaviano saat acara  journalist coaching clinic  yang diselenggarakan PT NGK Busi Indonesia beberapa waktu yang lalu.  Masa Pakai Terbatas Membiarkan kerusakan pada busi akan mengakibatkan efek berantai pada sistem pengapian. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada busi maupun pada komponen sebelum busi. Komponen itu seperti  spark plug wires, cap & rotor,  coil , dan juga  accu . Untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengganti busi, menurut Diko, secara umum ada dua hal yang perlu diperhatikan.  Pertama kondisi busi khususnya pada bagian elektroda, rusak atau tidak. Kedua  sudah berapa lama (jarak ) pemakaian kendaraan. Busi berbeda dengan pelumas, meskipun kendaraan tidak digunakan dalam jangka waktu lama, pelumas harus diganti. Sementara busi, meskipun kendaraan diparkir dalam waktu panjang, namun kondisinya masih baik dan kilometer kendaraan belum mencapai sekitar 6.000 km untuk sepeda motor dan sekitar 20.000 km untuk mobil, tidak perlu diganti. Dijelaskan oleh Diko batas angka 6000 Km untuk sepeda motor dan 20.000 Km untuk mobil mengacu pada rekomendasi yang dikeluarkan oleh NGK untuk penggunaan busi standar. Rekomendasi ini berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan busi standar pada berbagai mesin kendaraan.   Dalam uji tersebut tingkat kerusakan (keausan) pada busi rata-rata kendaraan akan dimulai pada 6,000 Km untuk motor dan 20,000 Km pada mobil.  Saat itu, boleh jadi busi masih bisa digunakan, namun pengguna kendaraan sudah harus mengetahui bahwa kerusakan busi sudah dimulai. Tentunya hasil akan berbeda pada setiap kendaraan bergantung pada merek dan jenis mesin yang digunakan. Untuk mengetahui dengan pasti kapan sebaiknya busi kendaraan diganti berdasarkan kilometer penggunaan ada baiknya melihat  manual book  yang dikeluarkan oleh pabrikan  masing-masing kendaraan. Sebagai teknisi kendaraan yang berpengalaman Diko menyarankan agar busi diganti setelah dua kali pergantian oli. “Jadi rumusnya 2:1, dua kali ganti oli, satu kali ganti busi,”ujarnya. Diko menambahkan, perhitungan itu didasari dengan titik pertama ketika busi mengalami erosi atau pengurangan dimensi alias pelebaran jarak. Pelebaran jarak yang dimaksud adalah jarak antara elektroda pusat dan elektroda massa ( ground ). Sebagaimana fungsinya,  busi akan memercikan api ketika terjadi proses pembakaran dalam mesin.  Akibat percikan api inilah kemudian memicu mesin bekerja.  Percikan api yang terjadi menimbul kan kerak atau karbon. Semakin banyak karbon yang menumpuk di busi, ujung busi akan menghitam. Disinilah waktu untuk mengganti busi.  Menurut Diko harus disadari oleh pengguna kendaraan bahwa busi memiliki masa pakai yang terbatas. Komponen ini tidak bisa dipaksakan terus-menerus dalam  top performance.    Setelah dipakai selama periode tertentu, performa busi akan menurun."Busi tidak bisa dipakai terus menerus, memang ditakdirkan untuk rusak, “ kata Diko. Ada baiknya di saat musim hujan seperti saat ini, jadi waktu yang tepat untuk melihat kondisi busi. Apakah memag sudah saatnya diganti. Mengganti busi secara berkala, membuat berkendara  lebih nyaman, aman dan selamat   Sumber :  http://www.sindoweekly.com/automotive/daily/21-12-2018/antisipasi-mogok-di-musim-hujan

main Slider

Touring Aman karena Mengetahui Takdir Busi

Komponen kendaraan yang satu ini memang ditakdirkan untuk rusak. Pengguna keendaraan  harus  memahami kapan  busi harus diganti. Libur akhir tahun telah tiba, banyak agenda yang telah disiapkan untuk mengisi liburan kali ini.  Bagi pecinta otomotif, libur panjang seperti saat ini merupakan waktu yang pas untuk berkumpul bersama dengan teman-teman sesama pecinta otomotif. Touring bisa jadi pilihan kegiatan yang mengasyikkan untuk mengisi liburan akhir tahun. Sebelum touring tentunya kendaraan yang akan digunakan  harus di cek terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan masalah di perjalanan. Ban, pelumas, rem dan accu biasa  jadi komponen utama kendaraan yang perlu diperhatikan dan diganti menjelang perjalanan jauh. Sebenarnya masih ada satu lagi komponen penting yang harus diperhatikan saat persiapan touring, yakni busi.  Menurut Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Oktaviano,   kadang kala pengendara atau pemilik kendaraan sering mengabaikan  busi. Bukan  saja karena bentuknya yang mungil jadi sering kurang diperhatikan, namun di kalangan  teknisi kendaraan bermotor ada semacam anggapan bahwa busi bisa diutak-atik hingga  bisa mendongkrak kinerjanya. “Busi menjadi komponen kendaraan bermotor yang secara berkala harus diganti,”jelas Diko. Jadi bukan hanya karena kendaraan kesayangan ingin digunakan untuk touring saja, baru di cek kondisi businya. Bagi pengguna kendaraan  juga jangan anggap sepele fungsi busi.  Diko menambahkan  akan banyak masalah yang akan dihadapi jika busi tidak diganti secara berkala. Fungsi busi memang untuk menghidupkan mesin,  namun jika tidak diganti pada waktunya malah bisa merusak mesin kendaraan dan juga membahayakan pengguna kendaraan tersebut.   Ada beberapa resiko yang dihadapi saat busi yang sudah waktunya diganti tapi masih terus digunakan.  Reskiko tersebut mulai dari  e ngine idle  tidak stabil, akselarasi menurun ,  mesin sulit  hidup saat  start engine  hingga  boros bahan bakar. “Akibat busi yang tidak diganti secara berkala bisa membuat mesin mati mendadak di tengah jalan. Ini jelas sangat membahayakan pengguna kendaran,” ujar Diko Oktaviano saat acara  journalist coaching clinic  yang diselenggarakan PT NGK Busi Indonesia beberapa waktu yang lalu.   Jangan sampai hanya karena busi yang harganya tergolong terjangkau, karena tidak diganti, membuat kerugian yang cukup besar bagi pemilik kendaraan. Membiarkan kerusakan pada busi akan mengakibatkan efek berantai pada sistem pengapian. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada busi maupun pada komponen sebelum busi. Komponen itu seperti  spark plug wires, cap & rotor,  coil , dan juga  accu . Pertanyaan umum yang sering dilontarkan oleh pengguna kendaraan adalah kapan sebaiknya busi diganti ?  Nah, untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengganti busi, menurut Diko, secara umum ada dua indikatornya.  Pertama kondisi busi khususnya pada bagian elektroda, rusak atau tidak. Kedua  sudah berapa lama (jarak ) pemakaian kendaraan. Busi berbeda dengan pelumas, meskipun kendaraan tidak digunakan dalam jangka waktu lama, pelumas harus diganti. Sementara busi, meskipun kendaraan diparkir dalam waktu panjang, namun kondisinya masih baik dan kilometer kendaraan belum mencapai sekitar 6.000 km untuk sepeda motor dan sekitar 20.000 km untuk mobil, tidak perlu diganti. Dijelaskan oleh Diko batas angka 6000 Km untuk sepeda motor dan 20.000 Km untuk mobil mengacu pada rekomendasi yang dikeluarkan oleh NGK untuk penggunaan busi standar. Rekomendasi ini berdaarkan pengujian yang dilakukan dengan mengunakan busi standar pada berbagai mesin kendaraan.   Dalam uji tersebut tingkat kerusakan (keausan) pada busi rata-rata kendaraan akan dimulai pada 6,000km untuk motor dan 20,000km pada mobil.  Saat itu, boleh jadi busi masih bisa digunakan, namun pengguna kendaraan sudah harus mengetahui bahwa kerusakan busi sudah dimulai. Tentunya hasil akan berbeda pada setiap kendaraan bergantung pada merek dan jenis mesin yang digunakan. Untuk mengetahui dengan pasti kapan sebaiknya busi kendaraan diganti berdasarkan kilometer penggunaan ada baiknya melihat  manual book  yang dikeluarkan oleh pabrikan  masing-masing kendaraan. Jangan Diamplas Sebagai teknisi kendaraan yang berpengalaman Diko menyarankan agar busi diganti setelah dua kali pergantian oli. “Jadi rumusnya 2:1, dua kali ganti oli, satu kali ganti busi,”ujarnya. Diko menambahkan, perhitungan itu didasari dengan titik pertama ketika busi mengalami erosi atau pengurangan dimensi alias pelebaran jarak. Pelebaran jarak yang dimaksud adalah jarak antara elektroda pusat dan elektroda massa (ground). Sebagaimana fungsinya,  busi akan memercikan api ketika terjadi proses pembakaran dalam mesin.  Akibat percikan api inilah kemudian memicu mesin bekerja.  Percikan api yang terjadi menimbukan kerak atau karbon. Semakin banyak karbon yang menumpuk di busi, ujung busi akan menghitam. Disinilah waktu untuk mengganti busi.  Menurut Diko harus disadari oleh pengguna kendaraan bahwa busi memiliki masa pakai yang terbatas. Komponen ini tidak bisa dipaksakan terus-menerus dalam  top performance.    Setelah dipakai selama periode tertentu, performa busi akan menurun."Busi bukan untuk dipakai terus menerus, tapi memang ditakdirkan untuk rusak, “ kata Diko. Sayangnya hingga kini pengguna kendaraan masih sering mengutak atik busi yang telah lama digunakan, agar bisa oke kembali. Cara yang paling sering dilakukan adalah mengamplas kepala busi. Sidik, Teknisi Dealer Yamaha Deta, Pondok Bambu, Jakarta Timur, mengatakan bahwa bagian yang harus diperhatikan dari busi adalah ujungnya, yakni bagian elektroda tengah dan elektroda massa. Setelah digunakan beberapa lama, di bagian ini tampak berkerak atau berwarna hitam. Kerak tersebut merupakan dampak dari proses pembakaran. "Bagian ini memang harus dibersihkan dari kerak dan kotor. Tapi, jangan menggunakan amplas atau sikat kawat, karena malah mengikis bagian elektroda busi, " kata Sidik. Faktanya memang saat mengamplas busi, karena terlihat hitam (kotor), yang diamplas justru bagian elektrodanya.  Ini malah akan membuat celah antara elektorda pusat dan ground bertambah lebar.  Jarak yang lebar ini membutuhan percikan api yang lebih besar pula, akibatnya busi akan semakin rusak. Selain itu membutuhkan tenaga (daya) yang lebih besar pula untuk menghasilkan percikan api yang lebih besar.  Akibatnya penggunaan bahan bakar lebih boros dan accu dipaksa bekerja lebih keras lagi. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan. Ya itu tadi, mesin tidak bisa hidup saat di nyalakan atau yang lebih fatal lagi mesin mati mendadak. Oleh karena itu,  pengetahuan kapan busi harus diganti jadi hal yang berharga buat pengguna kendaraan .  Nah, jika busi rutin diganti secara berkala, maka perjalanan touring bersama rekan dan sahabat pun jadi lebih nyaman, aman dan selamat.  Selamat berlibur.   Sumber :  http://sindoweekly.com/automotive/daily/20-12-2018/touring-aman-karena-mengetahui-takdir-busi

main Slider

Busi Itu Masuk Kategori Service Berkala, Ini Kata NGK

Modcom, Jakarta  - Salah satu hal terpenting dalam merawat kendaraan adalah dengan melakukan servis secara rutin atau servis berkala. Dengan servis berkala, kinerja kendaraan akan tetap prima. Dengan demikian, para pemilik kendaraan selalu merasa aman dan nyaman saat bepergian. Service berkala juga mempunyai tujuan untuk menjaga komponen-komponen yang terdapat pada kendaraan supaya tetap layak untuk digunakan. Contohnya saja untuk sebuah mobil, service berkala terdiri dari perawatan 1.000 km, 10.000 km, 20.000 km, hingga 100.000 Km. Namun, setiap Agen Pemegang Merek (APM) pastinya memiliki rekomendasi service berkala tersendiri. Dalam melakukan service berkala, pemilik harus lebih memperhatikan saat mobil sudah menempuh jarak 20.000km, karena ada beberapa komponen yang wajib diganti selain oli mesin dan filter oli, komponen tersebut adalah busi. Bicara mengenai pergantian busi standar, Diko Oktaviano, Technical Support NGK Busi Indonesia mengatakan, pergantian busi itu bisa dilakukan setelah dua kali ganti oli mesin. "Semua tertulis di buku manual setiap kendaraan, silakan cek. Rata-rata pergantian busi mobil setelah menempuh 20.000km dan masuk kategori service berkala. Namun, setiap APM pastinya memiliki standarisasi service berkala atau pergantian busi yang berbeda-beda," jelasnya kepada rekan-rekan media saat kegiatan Coaching Clinic di Pabrik NGK, Jakarta Timur beberapa waktu lalu. Menurut Diko, alasan lain mengapa perlu mengganti busi setelah menempuh 20.000km adalah karena di jarak tersebut titik pertama busi itu mengalami erosi. "Diangka tersebutlah busi mulai mengalami erosi di bagian elektrodanya atau mengalami pengurangan dimensi atau pelebaran jarak," tambahnya. Meski demikian, NGK juga memiliki pilihan untuk pergantian busi yaitu berdasarkan kilometer pemakaian atau berdasarkan tingkat kerusakan elektroda. "Konsumen bisa melakukan pergantian busi diantara kedua pilihan tersebut. Mana yang tercapai lebih dahulu," terang Pria ramah tersebut. Namun, jika pemilik mobil merasa kurang puas dengan busi standar, NGK menyediakan beberapa jenis busi sesuai kebutuhan. Seperti NGK G-Power yang memiliki bahan platinum pada elektroda pusat dan trapesium pada elektroda ground. Fiturnya dan keunggulannya kendaraan jadi mudah saat start, pengapian lebih baik dari tipe standar dan efisiensi bahan bakar. Untuk Iridium IX memiliki bahan iridium pada elektroda pusat dan taper cut pada elektroda ground. Fiturnya dan keunggulannya sama seperti G-Power namun dengan tambahan teknologi Thermo Edge Design. Dimana teknologi tersebut dapat membersihkan endapan karbon ketika terjadi percikan. Sementara tipe Laser atau tipe yang paling tinggi dengan kandungan Elektroda Ground Platinum dengan logam mulia ganda bisa bertahan hingga 100 ribu Km. Memiliki semua fitur dan keunggulan dari tipe G-Power dan Iridium IX. Semoga bermanfaat.   Sumber :  http://www.modifikasi.com/showthread.php/657980-Busi-Itu-Masuk-Kategori-Service-Berkala-Ini-Kata-Ngk

main Slider

Wajib Tahu! Ini Jenis Busi NGK Sesuai Peruntukannya

Modcom, Jakarta  - Siapa yang tidak mengenal merek busi NGK? Busi NGK telah dipercaya oleh masyarakat Indonesia sejak hadir pertama kali pada tahun 1978 hingga saat ini. Bahkan tahun lalu tercatat, busi NGK terjual 50 juta pcs, sehingga perkiraan market sharenya mencapai 65 persen. Dari banyaknya produk NGK yang telah terjual, tahukah Modcomers, ada berapa jenis busi NGK yang dijual di Indonesia? Menurut Diko Oktaviano, Technical Support NGK Busi Indonesia, busi NGK yang dijual di Indonesia itu ada beberapa jenis. Secara umum, jenis busi NGK dimulai dari busi standar berbahan nikel, G-Power, Iridium, Laser Iridium dan Laser Platinum. Namun secara kategori market ada 7 (Nickel standar, Platinum GPower, Iridium IX, Laser platinum, Laser Iridium, Iri series terbagi menjadi 3 yaitu Iriway, Iritop, Irimac dan Racing competition). "Kalau fitur dan karateristik ada banyak. Tipenya juga banyak seperti standar plug, V Groove, DFE, 2 ground electrode dan masih banyak lagi," jelas Diko usai kegiatan Coaching Clinic di Pabrik NGK, Jakarta Timur beberapa waktu lalu.  Karena banyak tipe dan jenis busi NGK yang dijual di Indonesia, ada baiknya kita harus jenis busi sesuai peruntukannya. Dalam hal ini kita bahas busi motor. 1. Nickel standar Ini adalah jenis busi standar yang dipakai hampir semua motor di Indonesia. Busi ini juga digunakan sebagai standar OEM setiap pabrikan motor. Busi ini diperuntukan pemakaian motor sehari-hari. 2. Platinum G-Power Jika ingin naik kelas dari busi standar, busi jenis G Power bisa menjadi solusi. Memiliki bahan platinum pada elektroda pusat dan trapesium pada elektroda ground. Fiturnya dan keunggulannya kendaraan jadi mudah saat start, pengapian lebih baik dari tipe standar dan efisiensi bahan bakar. Bisa digunakan semua jenis motor sesuai dengan tipenya. 3. Iridium IX Memiliki bahan iridium pada elektroda pusat dan taper cut pada elektroda ground. Fiturnya dan keunggulannya sama seperti G-Power namun dengan tambahan teknologi Thermo Edge Design. Dimana teknologi tersebut dapat membersihkan endapan karbon ketika terjadi percikan. Busi ini juga bisa digunakan semua jenis motor sesuai dengan tipenya. 4. Laser platinum Ini produk kelas atasnya NGK. Biasanya dijadikan standar penggunaan motor sport diatas 250cc atau digunakan untuk motor-motor berkubisakasi besar. Fitur dan keunggulannya sama seperti Iridium IX dengan ditambah daya tahan umur busi lebih panjang. Motor standar dibawah 250cc belum bisa menggunakan busi jenis ini. Selanjutnya masih ada Laser Iridium, Iri series yang terbagi menjadi 3 yaitu Iriway, Iritop, Irimac, terakhir Racing competition. "Produk-produk tersebut sudah dijual di Indonesia. Namun untuk Iritop, Irimac dan Racing Competition akan kita perkenalkan tahun depan," ungkap Diko.   Sumber :  http://www.modifikasi.com/showthread.php/658138-Wajib-Tahu-Ini-Jenis-Busi-Ngk-Sesuai-Peruntukannya

main Slider

Busi NGK Dapat Membersihkan Dirinya Sendiri, Asal

Modcom, Jakarta  - Sistem pengapian memiliki peranan penting dalam proses pembakaran dalam ruang bakar. Sistem pengapian yang semakin baik maka pembakaran dalam ruang bakar akan semakin sempurna, sehingga kemungkinan adanya campuran bahan bakar dan udara yang tidak terbakar akan semakin kecil. Dalam sistem pengapian, busi memegang peranan penting. Busi berfungsi untuk memercikkan bunga api untuk membakar campuran udara/bahan bakar. Selain itu, desain busi juga berpengaruh agar percikan bunga api yang dihasilkan semakin sempurna. Namun, tidak hanya dari segi desain saja, teknologi yang ada dalam sebuah busi juga memiliki peran penting. Seperti teknologi Self Cleaning atau dapat membersihkan dirinya sendiri yang terdapat pada busi NGK. Lantas, bagaimana busi bisa melakukan self cleaning dan tetap terjaga kemampuannya. Diko Oktaviano, Technical Support NGK Busi Indonesia menjelaskan, pada prinsipnya, busi itu memiliki sifat self-cleaning atau dapat membersihkan dirinya sendiri. "Namun kembali lagi, teknologi tersebut bisa bekerja maksimal asal ruang bakar dalam keadaan baik dan pada saat mesin bekerja pada suhu temperatur yang optimal," kata Diko saat kegiatan Coaching Clinic di Pabrik NGK, Jakarta Timur (24/11). "Selain itu, busi dapat membersihkan dirinya sendiri dari tumpukan karbon saat mesin telah mencapai suhu 500 °C hingga 800 °C dan mendapat beban alias motor atau mobil melaju di kecepatan 60 – 100 km/jam selama 10-15 menit. Dengan begitu suhu mesin dan busi tinggi, dan kerak karbon rontok dengan sendirinya (self cleaning)," terang Diko. Sementara untuk busi NGK Iridium IX yang menggunakan teknologi Thermo Edge Design juga mampu melakukan self cleaning bahkan lebih baik dari pada busi standar. Teknologi tersebut telah dipantenkan oleh NGK yang berfungsi untuk membersihkan karbon ketika terjadi percikan. "Saat busi digunakan pasti ada penumpukan kerak di ujung busi. Nah, dengan teknologi Thermo Edge Design inilah saat ada aliran listrik masuk dari koil, kerak yang menumpuk tersebut akan terurai. Otomatis busi akan kembali bersih saat aktif digunakan," tambah Diko. Sementara ada 3 elemen penting dalam menentukan pembakaran yang sempurna dan efisien diantaranya, pencampuran bahan bakar dengan udara yang ideal (Good air fuel mixture), Timing kerja busi dalam menghasilkankualitas "percikan listrik" (Good Spark) dan ruang bakar sehat (Good Compressio).   Sumber :  http://www.modifikasi.com/showthread.php/657712-Busi-NGK-Dapat-Membersihkan-Dirinya-Sendiri-Asal?p=2061870984#post2061870984

main Slider

Pilih Busi yang Benar, Pastikan Panjang Ulirnya Tepat

Jakarta:  Memilih busi yang benar, bukan hanya perkara material busi dan angka dingin atau panasnya komponen tersebut untuk kendaraan yang kita gunakan. Namun pastikan juga panjang ulirnya sesuai dengan panjang ulir di lubang busi.   Masalahnya ketika Anda salah dalam memilih panjang ulir busi, maka ini akan membuka peluang penumpukan kerak karbon sisa pembakaran di celah-celah yang terbentuk. Hal ini digambarkan oleh PT NGK Busi Indonesia melalui buku pedoman penggunaan komponen pemantik api di ruang mesin itu.   "Pada dasarnya penting untuk memperhatikan segala hal yang detail untuk memilih busi yang tepat bagi kendaraan. Tidak mendasarkan pilihan busi terhadap spesifikasi tertinggi atau busi bermaterial terbaik. Namun pilihlah busi yang memang sesuai dengan permintaan mesin kendaraan Anda," klaim Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Octoviano. Dalam buku pedoman pemilihan busi untuk ulir yang tepat, dikatakan cukup vital. Mesin tidak akan beroperasi dengan baik jika panjang ulir busi tidak sesuai dengan yang terdapat di lubang busi. Jika salah menggunakan busi yang panjang ulirnya tak tepat, maka maka piston atau katup (valve) bisa mengenai komponen itu. Akhirnya mesin bisa rusak.  Namun dampak yang paling terasa jika posisinya aman dari tersenggolnya kepala piston dan katup, adalah penumpukan kerak karbon di sisa ulir. Baik sisa ulir yang terdapat di busi yang ulirnya terlalu panjang, atau sisa ulir di blok mesin akibat ulir busi terlalu pendek. "Mengetahui secara persis busi yang tepat untuk kendaraan sebenarnya bukan perkara untuk membuat komponen pengapian di ruang bakar itu jadi lebih awet. Lantaran seawet-awetnya busi, pada akhirnya akan diganti juga. Bahkan saat memilih busi tipe laser (yang memiliki logam mulia ganda) pun, tetap harus diganti. Terpenting adalah spesifikasi yang digunakan tidak melenceng."   Gambaran ini tentu menjadi alasan kuat mengapa Anda harus menggunakan ukuran busi yang tepat. Selain ukuran angka panas, juga memperhatikan panjang ulir busi dan tipe proyeksi elektroda yang sesuai spesifikasi mesin.   Sumber :  https://www.medcom.id/otomotif/tips-otomotif/ybDzDDAK-pilih-busi-yang-benar-pastikan-panjang-ulirnya-tepat

main Slider

Jangan Asal, Pasang Busi Baru dan Bekas Beda Perlakuan

Jakarta:  Memasang busi ke lubangnya di mesin kendaraan, ternyata tak boleh sembarangan. Meski terlihat sepele, namun pemasangan ini punya tata cara tersendiri agar tak mengalami masalah di kemudian hari.   Dituturkan Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Octoviano, bahwa pasang busi punya cara sendiri. Ini dilakukan untuk mencegah komponen tersebut terlalu kencang dan akhirnya retak atau patah di bagian insulator atau di ulir businya sendiri.   "Pemasangan yang harus dipahami cukup mudah. Yaitu dengan cara memutar dahulu menggunakan tangan, kemudian setelah busi tak bisa diputar lagi, kencangkan dengan perkakas kunci pengencang busi. Untuk busi baru, putarannya sekitar 180 derajat hingga 240 derajat. Sementara untuk busi yang sudah digunakan sebelumnya dan ingin dipakai lagi, cukup dengan 30 derajat saja atau seperduabelas putaran," ujar Diko.    Indikatornya pun cukup mudah dibaca antara busi baru dan busi bekar. Yaitu ring busi yang masih baru masih membulat, sementara untuk busi yang sudah pernah digunakan ring-nya sudah pipih.   "Itu juga yang membuat busi baru harus dikencangkan dengan jumlah putaran yang lebih besar ketimbang busi bekas. Agar ringnya menjadi pipih dan menjaga busi bekerja optimal."   Lalu bagaimana efeknya jika asal memasang busi tanpa mengetahui jumlah tekanan putarannya? Menurut Diko, risikonya bisa jadi merusak mesin itu sendiri. Mengingat mesin yang panas akan membuat material metal yang bergesekan lebih keras akan berubah.   Efek buruk lainnya adalah busi bisa patah saat akan dicabut. Kalau ini sampai terjadi maka itu akan jadi indikasi buruk untuk segera melakukan bubut ulang di bagian lubang busi. kalau sudah begini, tentu akan sangat merugikan. Jadi jangan asal mengencangkan baut tanpa memahami seberapa kencang tekanan putaran yang diberikan.   Sumber :  https://www.medcom.id/otomotif/tips-otomotif/GNl2qrPk-jangan-asal-pasang-busi-baru-dan-bekas-beda-perlakuan

main Slider

Busi Rusak, Waspadai Efek Buruknya ke Sistem Pengapian Lain

Jakarta:  Membiarkan komponen pemantik api atau busi di mesin kendaraan Anda tak optimal bahkan cenderung rusak, ternyata bisa mengakibatkan kerusakan di sistem pengapian lainnya. Hal ini terjadi lantaran busi tak bekerja secara tunggal. Komponen tersebut punya rangkaian atau sistem agar bisa bekerja bersama komponen lainnya.   Diungapkan oleh Technical Supporting PT NGK Busi Indonesia, Diko Octoviano, bahwa penggunaan busi yang sudah mulai melemah atau tak optimal lagi percikan apinya, bisa mempengaruhi komponen lain yang masuk dalam sistem pengapian di sebuah mesin.   "Membiarkan kerusakan pada busi akan membuat kerusakan dan efek berantai terhadap sistem pengapian. Selanjutkan bakal membuat kerusakan permanen terhadap busi dan membuat komponen sebelum busi melemah dan tak optimal," klaim Diko. JIka itu terjadi, Ia melanjutkan, harusnya budget yang tadinya untuk membeli busi, harus ditambah dengan untuk keperluan membeli komponen pengapian lain yang seharusnya bisa dicegah. Hal ini menurutnya yang justru jadi salah kaprah mereka yang ingin mengirit pengeluaran jadi berbelanja lebih banyak komponen.  "Mengapa kerusakan busi bisa mempengaruhi kinerja komponen kelistrikan lain yang berada di rangkaian sistem pengapian? Tidak lain karena tegangan listrik di dalam satu rangkaian itu kan selaras mengikuti permintaan yang timing pengapian di ruang bakar. Kalau ada salah satu komponen yang tidak optimal akan membuat tegangan di komponen sebelumnya akan over dan setelahnya jadi kurang. Kalau sudah begini, panas berlebih bisa terjadi dan akhirnya menimbulkan kerusakan." Tentu tidak akan sulit mendeteksi jika kondisi busi sudah mulai rusak. Pakem yang pertama adalah berdasarkan jarak tempuh motor mulai dari pertama kali memasang busi tersebut (untuk tipe busi bermaterial nikel). Kemudian cara kedua adalah mendeteksinya dengan melihat elektroda pusat dan elektroda ground yang mulai aus dan teroksidasi.   Tak heran jika mayoritas bengkel menyarankan untuk melakukan penggantian busi, jika gejala busi mulai berkurang kinerjanya. Untuk busi motor reguler yang menggunakan material nikel, penurunan performa biasanya terjadi ketika busi digunakan untuk jarak tempuh 6.000 km. Sementara untuk mobil penurunan performa biasanya terjadi saat busi digunakan sejauh 20.000 km.   Sementara jika menggunakan cara deteksi kerusakan yang kedua yaitu melihat elektroda, maka permukaan elektroda pusat atau ground, bentuknya mulai terkikis, tak bidang lagi. Sumber :  https://www.medcom.id/otomotif/mobil/GbmLa34N-busi-rusak-waspadai-efek-buruknya-ke-sistem-pengapian-lain

main Slider

Trik Menjaga Sempurnanya Pembakaran di Mesin

Jakarta:  Menjaga kesempurnaan pembakaran di ruang bakar mesin konvensional, akan sangat terpengaruh oleh beberapa hal. Di antaranya adalah kesesuaian oktan bahan bakar yang digunakan, kesesuaian campuran udara di ruang bakar, kualitas pengapian dari busi dan ruang bakar yang sehat.   Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Octoviano saat berbicara langsung kepada Medcom.id, menjelaskan bahwa hal-hal tersebut (di atas), adalah syarat mutlak untuk membuat kinerja mesin jadi optimal. Apalagi kalau berbicara soal mesin bakar, otomatis system pembakaran itu juga yang punya pengaruh besar untuk menjalankan kendaraaan.   "Optimalisasi kinerja mesin, tak terlepas dari tiga hal tersebut. Yaitu pencampuran bahan bakar dengan udara yang ideal, lalu timing pengapian yang secara terus-menerus terjadi di ruang bakar lalu kondisi ruang bakar itu sendiri yang menghasilkan kompresi bagus. Semua ini menjadi faktor penentu," klaim Diko.    Lebih jauh Diko menjelaskan tentang hal ini bahwa jika Anda melakukan modifikasi terhadap satu bagian, maka sebaiknya dilakukan juga penggantian komponen terkait. Misalnya dengan mengganti setup campuan BBM dan udara di ruang bakar. Kondisi ini membuat komponen pemantik api yaitu busi, akan membakar lebih cepat.   Alhasil, ini membuat permintaan timing pengapian yang lebih cepat atau lebih besar, membuat busi yang tak sesuai dengan spesifikasinya bakal lebih rentan mengalami carbon deposit di elektrodanya.   "Lebih parah lagi, bisa membuat busi kelewat panas dan membuat busi lebih cepat mencapai akhir usia pakainya. Kalau sudah begini, tentu meewajibkan penggunanya untuk memasang busi yang sesuai permintaan pengapian dalam ruang bakar. Hal inilah yang membuat Saya selalu menyarankan agar jika melakukan modifikasi untuk kinerja ruang bakar, wajib melakukannya sekaligus untuk komponen yang saling terkait."   Lebih parah lagi, efeknya bisa membuat komponen lain yang terhubung dengan sistem pengapian di mesin, cepat kalah. Misalnya baterai atau aki, lalu kiprok, alternator dan beberapa lagi lainnya. Jadi jika Anda berniat melakukan modifikasi di bagian ini, sekaligus hitung beberapa komponen terkait agar tak rugi dua kali.   Sumber :  https://www.medcom.id/otomotif/tips-otomotif/aNrqXrEK-trik-menjaga-sempurnanya-pembakaran-di-mesin

main Slider

Busi Mulai tak Optimal, Apa Efek Buruk Buat Mesin

Jakarta:  Banyak orang yang menyepelekan penggantian busi, khususnya karena biasanya pengguna kendaraan tidak mampu merasakan penurunan performa akibat kondisi busi yang mulai memburuk. Akibatnya, banyak hal buruk bisa terjadi. Terutama terhadap performa mesin secara menyeluruh.   Menurut Technical Support PT NGK Busi Indonesia, Diko Octoviano saat berbicara kepada Medcom.id, bahwa banyak hal buruk yang bisa terjadi terhadap mesin ketika seseorang mengabaikan komponen mesin yang satu ini. Terutama yang bersentuhan langsung dengan sistem pengapian.   "Sebenarnya paling gampang mendeteksi hal buruk yang terjadi ketika busi mulai turun performanya, adalah ketika motor diajak menanjak. Biasanya dengan RPM dan kecepatan tertentu masih bisa naik, kalau busi mulai tak bagus, maka performanya akan cepat drop saat digunakan untuk menukik atau menanjak. Ini gampang sekali terdeteksi," ujar Diko.  Mesin Tidak Stabil Gejala yang dimaksud oleh Diko adalah stabilitas pengapian di ruang bakar sudah hilang. Sehingga kinerja mesin jadi pincang atau tidak stabil. Kondisi ini membuat tenaga yang biasanya stabil digunakan untuk menanjak, kehilangan momentum. Sehingga daya puntir mesin akan lebih berat.   Akselerasi Menurun Tidak berbeda dengan alasan pertama, lantaran daya puntir menurun, maka momentum untuk menggerakkan roda agar lebih kuat menanjak pun hilang. Hal inilah yang kemudian bisa dirasakan kurang menggigit ketika menanjak.   Boros Bahan Bakar Lantaran pengapian yang tidak stabil, membuat pembakaran tak lagi konstan. Sementara bahan bakar dan campuran udara yang disemprotkan ke ruang bakal tetap berjalan. Kondisi ini membuat bahan bakar tidak terbakar sempurna di ruang bakar. Sehingga membuat jumlah penggunaan bbm semakin banyak. Kalau sudah begini, penggunaan BBM akan lebih boros.   Sulit Menghidupkan Mesin Ciri paling mudah mengenali turunnya performa busi, adalah dengan sulitnya menyalakan mesin. Kondisi ini juga menjadi ciri paling gampang untuk mengenali kondisi busi yang mulai jelek. Sehingga dibutuhkan kerja keras sistem pengapian lainnya untuk membuat mesin menyala.   Kesemua efek ini jika dibiarkan, bakal membuat sistem pengapian mesin jadi buruk, seperti kinerja aki, kiprok dan lain sebagainya. Diko menyarankan agar secepatnya melakukan penggantian busi, agar membuat sistem pengapian mesin terjaga. Sumber :  https://www.medcom.id/otomotif/mobil/dN6n06vN-busi-mulai-tak-optimal-apa-efek-buruk-buat-mesin

Jl. Raya Jakarta - Bogor Km 26,6 Jakarta 13740
INDONESIA
+62 21 8710974
marketing@ngkbusi.com

JOIN OUR SOCIAL MEDIA CONVERSATION///

Copyright © 2019 PT. NGK Busi Indonesia. All rights reserved.